Kamis, 22 Januari 2009 • 1:24 am
Di negeri kita, masalah video game mungkin belum menjadi suatu hal yang cukup penting untuk dibahas oleh anggota DPR di Senayan; Banyak masalah-masalah lebih penting lain yang harus diprioritaskan mereka. Tapi di negara-negara yang generasi mudanya sudah lebih melek teknologi, video game adalah satu hal yang dikonsumsi secara umum layaknya televisi, sehingga perlu diregulasi oleh pemerintahnya. Neils Clark, seorang peneliti video game, menguraikan lika-liku dan pelbagai masalah terkait pengaturan tersebut di artikel terbarunya di situs Gamasutra.
Read the rest of this entry »
Filed under: Artikel , adiksi, amerika, anak, cina, hukum, internet, kecanduan, korea, legal, online, pembajakan, sensor, undang-undang
Senin, 29 Desember 2008 • 8:15 am
Di antara semua negara yang menganggap game cukup serius untuk diurusi, tak diduga salah satunya adalah Iran. Dari situs The Tehran Times [via blog Kotaku] diumumkan oleh the National Foundation for Computer Games (badan yang mengurusi industri video game) kalau mereka akan mengadopsi rating ESRB yang selama ini telah digunakan untuk game-game yang didistribusikan di wilayah Amerika Utara.

Rating ESRB
Read the rest of this entry »
Filed under: Berita , amerika, ESRB, industri, iran, klasifikasi, rating, sensor, umur
Minggu, 28 Desember 2008 • 1:19 am
Jerman termasuk salah satu negara yang paling keras soal sensor video-gamenya; tak heran kalau banyak warga di sana yang merasa antipati terhadap game-game yang menonjolkan kekerasan. Sebagai reaksi atas keputusan Asosiasi Kebudayaan Jerman yang menjadikan video game sebagai salah satu bagian dari budaya sah bangsanya, sekumpulan warga sampai perlu merasa untuk bersatu dan membuat deklarasi.
Read the rest of this entry »
Filed under: Berita , anak, budaya, call of duty, cologne, counterstrike, crysis, deklarasi, doom, grand theft auto, jerman, kekerasan, sensor
Komentar Terakhir